Ada seorang janda yang
memiliki dua anak perempuan, yakni Ela dan Rina. Ela cantik dan rajin sedangkan
Rina jelek dan malas. Namun, dia sangat cinta kepada anaknya yang jelek dan
malas karena ia adalah putri kandungnya sendiri. Maka dari itu, Ela yang hanya
seorang anak tiri terpaksa melakukan semua pekerjaan dan menjadi seperti Cinderella
di rumah itu. Setiap hari Ela si gadis malang itu harus duduk di pinggir sumur
yang ada di dekat rumah. Dia terus menerus memintal dan memintal sampai
jari-jarinya berdarah.
Suatu ketika alat pintal
terkena darahnya sehingga dia mencelupkannya ke dalam sumur untuk menghilangkan
nodanya tetapi alat pintal tersebut malah jatuh ke dalam sumur. Ela mulai menangis
dan berlari ke ibu tirinya untuk menceritakan kecelakaan itu. Namun, ibu
tirinya memarahi Ela dengan tajam dan tanpa ampun dia berkata: “Karena kamu telah
membiarkan alat pintalmu jatuh, kamu harus mengambilnya lagi.”
Jadi gadis itu kembali ke
sumur meskipun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Di dalam kesedihan hatinya
dia kehilangan akal sehatnya dan segera melompat ke dalam sumur untuk
mendapatkan alat pintalnya. Lalu dia tidak sadarkan diri. Ketika tersadar, dia telah
berada di sebuah padang rumput yang indah. Di sana matahari bersinar cerah dan
ribuan bunga terlihat mekar dengan indahnya.
Dia pun pergi menyeberangi padang
rumput dan akhirnya tiba di tempat tukang roti. Di sini Ela melihat ada sebuah oven
yang penuh roti dan roti-rotinya berteriak: “Oh, keluarkan kami. Bawa kami keluar atau kami akan terbakar.
Kami telah dipanggang terlalu lama.” Maka, Ela bergegas mengeluarkan
semua roti satu demi satu dengan sekop roti.
Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya
sampai dia tiba di pohon apel yang sedang berbuah lebat. “Oh, kocok kami. Kocok kami. Buah apel kami
sudah matang semua.” Maka, Ela mengguncang pohon tersebut sampai semua
buah apel jatuh seperti hujan. Pohon tersebut pun terus digetarkan sampai semua
buah apel berhasil dijatuhkan. Lalu dia mengumpulkan semua buah apel ke dalam satu
tumpukan dan pergi melanjutkan perjalanannya.
Selang beberapa waktu dia tiba
di sebuah rumah kecil. Di rumah ini ada seorang wanita tua yang sedang mengintip.
Wanita ini memiliki gigi yang besar sehingga membuat Ela ketakutan dan hendak
melarikan diri. Namun, wanita tua itu berkata padanya: “Apa
yang kamu takutkan anakku sayang? Tinggallah bersamaku. Bila kamu bisa melakukan
semua pekerjaan rumahmu dengan benar, di sini kamu akan bisa mendapatkan lebih
baik daripada itu. Hanya saja kamu harus berhati-hati dalam merapikan dan
membersihkan tempat tidurku. Lakukanlah dengan baik dan bersihkan secara
menyeluruh sampai semua bulu terbang agar ada salju di bumi. Saya Bunda Holle.”
Karena wanita tua itu berbicara
begitu baik kepadanya, Ela memberanikan diri menyetujui tawarannya. Dia pun berusaha
mendapatkan kepuasan majikannya sehingga dia selalu mengguncang tempat tidur
Bunda Holle dengan amat keras agar bulu-bulu beterbangan seperti serpihan salju.
Jadi, Ela punya kehidupan yang menyenangkan bersamanya. Tak pernah ada kata
marah. Untuk makan, setiap hari dia merebus daging panggang.
Dia tinggal beberapa waktu
dengan Bunda Holle hingga suatu ketika ia menjadi sedih. Pada awalnya Ela tidak
mengetahui segala sesuatu yang terjadi dengan dirinya. Namun, pada akhirnya dia
menyadari bahwa dia rindu rumahnya. Meskipun di sini berkali-kali lipat lebih
baik daripada di rumahnya, Ela masih memiliki kerinduan untuk pulang ke rumah.
Akhirnya Ela berkata kepada
Bunda Holle: “Saya
memiliki kerinduan untuk pulang ke rumah. Betapapun baiknya saya di sini, saya
tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Saya harus kembali lagi kepada keluarga
saya sendiri.” Wanita tua itu berkata: “Saya
senang kamu merindukan rumahmu lagi. Dan, karena selama ini kamu telah melayani
saya dengan amat baik, saya sendiri yang
akan mengantarmu kembali.”
Tags: dongeng Grimm bersaudara,
mother holle, dongeng bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia, cerita fiksi anak,
dongeng sebelum tidur, cerita anak nusantara
0 komentar:
Post a Comment